DIGDAYA NEWS. COM/ MOJOKERTO – Puluhan Jamaah memadati kantor LBH Djawa Dwipa yang berdekatan dengan kediaman Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., di Jalan Raya Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (24/1/2026), dalam Rutinan Selawatan ke-19 yang digelar Grup Selawat Al Haddad Djawa Dwipa.
Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan.
Lantunan selawat, doa bersama, serta tausiyah para kiai, ustadz menghadirkan suasana religius yang menguatkan nilai spiritual dan sosial di tengah masyarakat.
Direktur LBH Djawa Dwipa , Hadi Purwanto ST, SH,.MH , menyampaikan bahwa selawatan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan ikhtiar nyata membentuk karakter generasi penerus yang berakhlak dan beriman.
Ia menegaskan, istiqomah dalam amal kebaikan menjadi fondasi utama dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat.
“Selawatan ini kami jadikan sarana mendekatkan anak-anak pada Islam, agar tumbuh dengan nilai akhlak dan cinta Rasulullah SAW. Pendidikan agama adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai,” ujar Hadi Purwanto
Dalam kesempatan itu, Mas Hadi panggilan akrabnya juga mengungkapkan rasa syukur atas capaian akademik anak pertamanya, Titan Pasyahrani Hadi, yang berhasil meraih nilai A di seluruh mata kuliah dan kini menempuh semester lima di Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya.
Ia turut memohon doa untuk anak keduanya yang saat ini duduk di kelas XI SMAN 1 Bangsal agar terus diberi kelancaran dalam menempuh pendidikan, setelah sebelumnya meraih prestasi peringkat pertama di sekolah.
Sementara itu penasihat Jemaah Group Selawat Al Haddad Djawa Dwipa, K.H. Hasan Mathori, dalam tausiyahnya mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua selagi masih diberi umur panjang. Menurutnya, pengabdian kepada orang tua merupakan pintu utama keberkahan hidup.
“Kasih sayang orang tua adalah cinta yang paling tulus. Selama mereka masih ada, perbanyaklah berbuat baik dan membahagiakan mereka,” pesan Kiai Hasan Mathori
Ia juga menekankan bahwa amal saleh yang dilakukan secara konsisten akan menjadi sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Kiai Hasan mengingatkan bahwa ilmu harus diamalkan, karena tanpa amal, ilmu tak akan membawa manfaat.
Selain itu, nilai kepedulian sosial turut menjadi sorotan dalam tausiyah tersebut. Menurut Kiai Hasan, ukuran kekayaan sejati terletak pada perilaku dan keikhlasan seseorang dalam berbagi kepada sesama.
“Bukan soal banyaknya harta, tapi bagaimana harta itu membawa manfaat. Mas Hadi Purwanto memberi teladan dengan membuka rumahnya untuk selawatan dan berbagi keberkahan,” tuturnya.

Sementara itu, Ustaz Mukid selaku penasihat kegiatan menambahkan bahwa doa bersama dan selawatan memiliki kekuatan luar biasa dalam mempererat silaturahmi dan saling mendoakan antarumat. Ia mengajak jemaah untuk terus menjaga tradisi kebaikan tersebut.
“Ketika manusia meninggal, yang dibawa hanyalah amal. Selawatan, doa, dan silaturahmi inilah yang kelak menjadi penolong,” pungkasnya.
Rutinan Selawatan Al Haddad Djawa Dwipa yang dibentuk oleh Hadi Purwanto bersama tokoh agama, tokoh masyarakat setempat diharapkan terus berlanjut sebagai wadah pembinaan spiritual, penguatan ukhuwah, serta media penanaman nilai-nilai Islam yang membumi di tengah masyarakat Mojokerto. ( din)












