DIGDAYA NEWS.COM | MOJOKERTO – Hujan yang turun sejak siang hari tak menyurutkan langkah warga Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, untuk mengikuti rangkaian Khotmil Qur’an dan Ruwah Dusun, Minggu (1/2/2025). Justru dalam suasana tersebut, nuansa khidmah dan kebersamaan semakin terasa kuat.
Kegiatan keagamaan dan tradisi budaya itu digelar di area Makam Umum Dusun Banjarsari yang berada di kompleks makam leluhur, Eyang Temenggung Soekarto Widjoyono atau yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Sentono.
Sejak awal acara, warga dari berbagai usia tampak hadir dan memadati lokasi, menunjukkan antusiasme yang tinggi meski cuaca kurang bersahabat.
Tradisi ruwah dusun semakin semarak dengan kehadiran puluhan ancak yang ditata rapi.
Ancak-ancak tersebut berisi aneka hasil pertanian seperti sayur-mayur dan buah-buahan, serta perlengkapan rumah tangga dan gerabah, Bahkan, ada kembang mayang yang ditempeli uang seribu hingga lima ribu rupiah. Setelah doa bersama dan tausiyah selesai, seluruh isi ancak diperebutkan oleh warga yang hadir, begitu juga kembang mayang ludes tanpa sisa, hal itu menciptakan suasana penuh keakraban dan kegembiraan.

Selain itu, panitia juga menyiapkan nasi tumpeng yang kemudian dinikmati bersama oleh warga secara gotong royong. Momen makan bersama ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus wujud kebersamaan masyarakat Dusun Banjarsari. Acara tersebut turut dihadiri Penjabat Kepala Desa Kedunglengkong serta Kepala Dusun Banjarsari.
Penanggung jawab kegiatan, Hadi Purwanto, menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran acara dan tingginya partisipasi warga.
“Walaupun hujan, masyarakat tetap hadir dengan penuh semangat. Ini menunjukkan kekompakan dan kepedulian warga terhadap kegiatan keagamaan dan tradisi leluhur,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa Khotmil Qur’an dan Ruwah Dusun merupakan sarana untuk memperkuat syiar Islam sekaligus mendoakan para leluhur agar dusun senantiasa diberikan keberkahan, kerukunan, serta dijauhkan dari segala musibah.
Penasihat kegiatan, Ustaz Mukid, turut mendoakan agar hujan yang turun membawa manfaat bagi seluruh warga. Ia berharap kegiatan Khotmil Qur’an dapat terus dilaksanakan secara rutin dengan partisipasi masyarakat yang konsisten.
Sementara itu, Kepala Dusun Banjarsari, Dwi Ahmad Fauzi, mengapresiasi kekompakan warganya. Menurutnya, semangat kebersamaan terlihat jelas saat warga tetap mengikuti arak-arakan dari masjid menuju makam meski dalam kondisi hujan.
Hal senada disampaikan Pj Kepala Desa Kedunglengkong, Rusmiati. Ia menegaskan bahwa Ruwah Dusun merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus upaya melestarikan budaya Jawa agar tetap hidup di tengah masyarakat.
“Semoga tradisi ini terus terjaga dan membawa manfaat bagi semua,” ujarnya.

Penasihat jemaah, K.H. Hasan Mathori, mengingatkan agar seluruh rangkaian kegiatan tetap dilaksanakan dengan tertib dan penuh adab. Ia juga menekankan makna keberkahan dalam kebersamaan yang terwujud melalui Khotmil Qur’an dan tumpeng yang dibagikan kepada warga. (din)












