DIGDAYA NEWS. COM/ SURABAYA,- Di ruang publik, keberagaman terus dirayakan. Di panggung politik, toleransi menjadi slogan yang nyaris selalu diucapkan. Di media sosial, narasi pluralisme hadir dalam bentuk tagar, kampanye, hingga kutipan motivasi.
Namun di balik semua itu, banyak orang justru merasakan kenyataan yang berbeda: hubungan sosial semakin renggang, perdebatan mudah memanas, dan rasa curiga terhadap kelompok lain perlahan tumbuh di tengah masyarakat.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa di tengah semangat toleransi yang terus digaungkan, masyarakat justru terasa semakin terbelah?
Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara dengan keberagaman yang kompleks. Perbedaan agama, suku, budaya, hingga bahasa telah menjadi bagian dari identitas bangsa. Namun dalam beberapa tahun terakhir, keberagaman yang dulu dipandang sebagai kekuatan mulai menghadapi tantangan serius. Polarisasi sosial tidak lagi sekadar terlihat di media, tetapi juga dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Perbedaan pilihan politik misalnya, kerap memicu ketegangan dalam pertemanan bahkan keluarga. Ruang diskusi publik semakin keras, sementara media sosial berubah menjadi arena pertarungan opini yang penuh sentimen identitas.
Menurut Sumartono, persoalan utama bukan terletak pada gagasan pluralisme itu sendiri, melainkan pada cara masyarakat mempraktikkannya.
“Pluralisme sering berhenti pada toleransi pasif, sekadar hidup berdampingan tanpa benar-benar memahami satu sama lain. Sementara multikulturalisme kerap hanya tampil dalam simbol keberagaman tanpa menyentuh persoalan keadilan sosial,” ujarnya.
Akibatnya, keberagaman tampak indah di permukaan, tetapi rapuh ketika diuji oleh konflik kepentingan maupun tekanan sosial.
Perkembangan era digital disebut menjadi faktor yang memperumit situasi. Media sosial yang semestinya menjadi ruang dialog justru lebih sering menghadirkan polarisasi. Algoritma platform digital cenderung memperlihatkan informasi yang sesuai dengan preferensi pengguna, sehingga orang semakin jarang terpapar pandangan yang berbeda.
Kondisi tersebut membuat masyarakat hidup dalam “ruang gema” yang seragam. Ketika berhadapan dengan pendapat lain, respons yang muncul bukan lagi rasa ingin tahu, melainkan penolakan bahkan serangan.
“Orang menjadi terbiasa hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar. Ketika ada perbedaan, yang muncul justru rasa terancam,” kata Sumartono.
Ia menilai, harmoni sosial yang selama ini dianggap kuat sebenarnya perlu dievaluasi kembali. Bisa jadi, konflik dan perbedaan selama ini hanya tersembunyi tanpa pernah benar-benar diselesaikan. Ketika ruang digital membuka semuanya secara bebas, berbagai ketegangan itu akhirnya muncul ke permukaan.
Dalam situasi seperti sekarang, toleransi pasif dinilai tidak lagi cukup. Sikap sekadar “tidak mengganggu” dianggap terlalu rapuh menghadapi tekanan zaman yang semakin kompleks.
Generasi muda menjadi kelompok yang paling merasakan tantangan tersebut. Mereka tumbuh di era global yang serba terhubung, namun pada saat yang sama juga penuh fragmentasi sosial. Di satu sisi, mereka didorong untuk terbuka terhadap perbedaan. Namun di sisi lain, mereka terus dibanjiri narasi yang memperkuat sekat identitas.
Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang memilih bersikap apatis atau justru reaktif secara berlebihan terhadap perbedaan.
Padahal, menurut Sumartono, yang dibutuhkan saat ini adalah kemampuan reflektif: mampu mendengar tanpa langsung menolak, serta mampu berbeda tanpa merasa terancam.
“Pluralisme hari ini tidak bisa lagi dipahami secara dangkal. Keberagaman bukan sekadar hidup berdampingan, tetapi bagaimana perbedaan dikelola secara adil,” tegasnya.
Ia menambahkan, masyarakat perlu bergerak dari sekadar toleransi menuju solidaritas aktif. Artinya, tidak cukup hanya membiarkan kelompok lain hidup berbeda, tetapi juga berani memahami dan membela hak-hak mereka ketika diperlukan.
Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, Indonesia kini dinilai berada di persimpangan penting. Keberagaman dapat menjadi kekuatan besar yang mendorong kemajuan bangsa, namun juga berpotensi menjadi sumber konflik apabila tidak dikelola dengan baik.
“Tantangan terbesar kita hari ini bukan lagi soal menerima perbedaan saat keadaan nyaman, tetapi apakah kita tetap mampu hidup bersama ketika perbedaan itu terasa sulit,” pungkas Sumartono.












