Postmodernisme dan Fenomena Anak Putus Sekolah: Krisis Makna Pendidikan di Era Modern

H. Afan Faizin M.Pd Dosen FIPS Unitomo Surabaya dan Juga Ketua MWCNU Kecamatan Pungging - Mojokerto

Penulis :  H. Afan Faizin M. Pd, Dosen FIPS Unitomo Surabaya dan Ketua MWCNU Kec. Pungging Mojokerto

DIGDAYA NEWS. COM/ MOJOKERTO, Perkembangan masyarakat modern membawa perubahan besar dalam cara manusia memandang pendidikan, pekerjaan, dan masa depan. Di era postmodernisme, nilai-nilai kehidupan tidak lagi bersifat tunggal dan absolut. Segala sesuatu menjadi relatif, cair, dan dipengaruhi oleh budaya media, teknologi digital, serta perubahan sosial yang cepat.

Dalam situasi tersebut, fenomena anak putus sekolah menjadi persoalan sosial yang semakin kompleks.

Anak putus sekolah tidak lagi hanya dipahami sebagai akibat kemiskinan ekonomi, tetapi juga sebagai dampak perubahan budaya, krisis identitas, lemahnya makna pendidikan, dan pergeseran orientasi hidup masyarakat modern. Perspektif postmodernisme membantu melihat bahwa pendidikan saat ini sedang mengalami krisis legitimasi di tengah budaya instan dan digitalisasi kehidupan.

Postmodernisme merupakan pandangan yang muncul sebagai kritik terhadap modernisme. Jika modernisme percaya pada rasionalitas, kemajuan, dan kepastian, maka postmodernisme justru menolak kebenaran tunggal dan mempertanyakan berbagai sistem besar yang dianggap mapan, termasuk pendidikan formal.

Dalam perspektif postmodernisme:
realitas dianggap relatif,
identitas manusia bersifat cair,
media memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran sosial,
dan institusi formal sering kehilangan otoritas moralnya.

Kondisi ini memengaruhi cara generasi muda memandang sekolah. Banyak anak mulai mempertanyakan relevansi pendidikan formal dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Anak Putus Sekolah dalam Perspektif Postmodernisme

Fenomena anak putus sekolah tidak dapat dipahami hanya melalui faktor ekonomi. Dalam era postmodern, terdapat berbagai faktor sosial-kultural yang turut memengaruhi keputusan anak meninggalkan sekolah.

1. Krisis Makna Pendidikan

Banyak anak merasa sekolah tidak lagi memberi jaminan masa depan. Mereka melihat kenyataan bahwa kesuksesan tidak selalu diperoleh melalui pendidikan formal. Influencer
media sosial, content creator, dan figur viral sering dianggap lebih sukses dibanding lulusan sekolah tinggi.
Akibatnya, sekolah kehilangan makna simbolik sebagai jalan utama menuju keberhasilan hidup.

2. Budaya Instan dan Digital

Era digital membentuk budaya serba cepat. Anak-anak terbiasa mendapatkan hiburan, informasi, dan pengakuan sosial secara instan melalui media sosial. Proses pendidikan yang membutuhkan kesabaran dan tahapan panjang dianggap membosankan.
Budaya ini menyebabkan sebagian anak lebih tertarik mencari uang cepat melalui dunia digital dibanding menyelesaikan pendidikan formal.

3. Fragmentasi Identitas Remaja

Dalam perspektif postmodernisme, identitas manusia tidak lagi stabil. Anak-anak muda sering mengalami kebingungan identitas akibat pengaruh media, lingkungan, dan perubahan budaya yang cepat.
Kondisi tersebut membuat sebagian anak kehilangan motivasi belajar karena tidak memiliki tujuan hidup yang jelas.

4. Sekolah sebagai Struktur yang Kaku

Sebagian anak menganggap sekolah terlalu formal, menekan, dan tidak memberi ruang ekspresi diri. Sistem pendidikan yang terlalu menekankan nilai akademik kadang mengabaikan kreativitas, bakat, dan kondisi psikologis peserta didik.

H. Afan Faizin MPd, Dosen FIPS  Unitomo Surabaya, dan ketua MWCNU Pungging Mojokerto

Akibatnya, anak yang merasa tidak mampu menyesuaikan diri memilih keluar dari sistem pendidikan.
Dampak Sosial Anak Putus Sekolah
Fenomena anak putus sekolah membawa berbagai dampak sosial yang serius, antara lain:

meningkatnya pengangguran usia muda,
munculnya kenakalan remaja,
rendahnya kualitas sumber daya manusia,

meningkatnya kemiskinan struktural,
serta rentannya anak terhadap eksploitasi sosial dan kriminalitas.

Dalam masyarakat postmodern, anak putus sekolah juga rentan mengalami alienasi sosial, yaitu perasaan terasing dari lingkungan dan kehilangan arah kehidupan.

Membangun Pendekatan Pendidikan yang Humanis

Menghadapi fenomena ini, pendidikan perlu dibangun dengan pendekatan yang lebih humanis dan kontekstual. Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi harus menjadi ruang pembentukan identitas, kreativitas, dan kesadaran sosial.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

menghadirkan pembelajaran berbasis kreativitas,
mengembangkan pendidikan vokasional dan keterampilan hidup,
memperkuat pendekatan psikologis dan emosional,
memanfaatkan teknologi digital secara edukatif,
serta membangun hubungan yang lebih dialogis antara guru dan siswa.
Pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan generasi modern tanpa kehilangan nilai moral dan kemanusiaan.

Penutup

Fenomena anak putus sekolah dalam perspektif Postmodernisme menunjukkan bahwa persoalan pendidikan saat ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan krisis makna, perubahan budaya, dan transformasi sosial di era digital.
Sekolah perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang pembentukan manusia yang berkarakter dan berkesadaran sosial. Dengan pendekatan pendidikan yang lebih humanis, kreatif, dan relevan, anak-anak dapat kembali melihat pendidikan sebagai jalan penting untuk membangun masa depan yang bermakna ()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *