Budaya  

Perkuat Doa untuk Leluhur Warga Banjarsari Istikhomah Ikuti Khotmil Qur’an di Makam Eyang Tumenggung Soekarto,

Penanggung jawab kegiatan, Hadi Purwanto bersama warga saat ikuti pembacaan sholawat nabi

DIGDAYA NEWS. COM/ MOJOKERTO, – Suasana khidmat menyelimuti kompleks makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono di Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu (3/5/2026)

Puluhan warga tampak memadati area pemakaman untuk mengikuti kegiatan Khotmil Qur’an yang telah memasuki pelaksanaan ke-23.

Agenda yang digelar Paguyuban Rutinan Khotmil Qur’an Makam Banjarsari ini mengusung tema doa bersama bagi leluhur dan ahli kubur. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga momentum mempererat hubungan sosial serta menjaga tradisi keagamaan di tengah masyarakat.

Penanggung jawab kegiatan, Hadi Purwanto ST,.SH,.MH,, menjelaskan bahwa ziarah kubur merupakan bagian dari ajaran Islam yang memiliki makna mendalam. Selain mengingatkan manusia pada kehidupan akhirat, ziarah juga menjadi bentuk penghormatan kepada orang tua dan leluhur yang telah berpulang.

“Ziarah ini bukan untuk menyembah, melainkan mengingatkan bahwa hidup memiliki batas. Ini juga bentuk bakti agar kita tidak melupakan asal-usul,” ujarnya.

Ia menambahkan, bakti kepada orang tua tidak berhenti meski mereka telah wafat. Menurutnya, mendoakan, bersedekah, serta menjaga silaturahmi dengan kerabat dan sahabat orang tua merupakan bentuk nyata dari penghormatan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Hadi Purwanto juga menekankan bahwa doa yang dipanjatkan kepada leluhur diyakini memberikan manfaat, baik bagi yang mendoakan maupun yang didoakan.

“Doa anak saleh menjadi salah satu amalan yang terus mengalir. Ini bagian dari ikhtiar kita untuk tetap berbakti,” katanya.

Ia juga menilai tradisi nyekar yang berkembang di masyarakat merupakan warisan budaya yang selaras dengan nilai-nilai Islam, selama tidak mengandung unsur menyimpang dari ajaran agama.

Warga Banjarsari saat ikuti kegiatan khotmil Quran, Tahlil dan sholawatan di makam

Sementara itu, penasihat kegiatan, K.H. Hasan Mathori, dalam tausiyahnya mengajak masyarakat untuk menjadikan Khotmil Qur’an sebagai amalan rutin. Ia menyebut, rangkaian kegiatan yang meliputi pembacaan Al-Qur’an, sholawat, serta doa bersama memiliki nilai spiritual yang tinggi.

“Melalui kegiatan ini, kita memohon keberkahan hidup, kelancaran rezeki, dan ketenangan batin. Jika dilakukan secara istiqomah, insya Allah akan membawa kebaikan,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak lalai dalam menjaga kedekatan spiritual kepada Allah, terutama ketika diberikan kemudahan rezeki.

“Kondisi lapang jangan sampai membuat kita lupa. Justru di situlah kita harus semakin mendekatkan diri,” pesannya.

Kegiatan Khotmil Qur’an ini pun diharapkan terus berlanjut sebagai wadah memperkuat nilai keagamaan sekaligus menjaga tradisi luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun. ( din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *