Budaya  

Khotmil Qur’an ke-26 di Makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono, Jamaah Diajak Semaangat Istiqomah dan Hormati Jasa Leluhur.

Hadi Purwanto ST, SH, MH bersama jamaah lain saat khusyuk ikuti pembacaan tahlil di lokasi.

DIGDAYA NEWS.COM | MOJOKERTO – Puluhan jamaah memadati kompleks makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono di Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu (2/8/2026), untuk mengikuti Khotmil Qur’an ke-26 yang rutin digelar oleh Jam’iyah Rutinan Khotmil Qur’an.

Kegiatan yang telah berlangsung selama sekitar dua tahun itu menjadi wadah memperkuat syiar Islam sekaligus mendoakan para orang tua, guru, leluhur, dan seluruh ahli kubur.

Sejak pagi, jamaah mengikuti rangkaian pembacaan Al-Qur’an, doa bersama, Sholawat Nabi hingga tausiah keagamaan dengan penuh khidmat.

Penanggung jawab kegiatan, Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., mengatakan bahwa ziarah kubur memiliki makna mendalam dalam ajaran Islam. Selain mengingatkan manusia akan kehidupan akhirat, ziarah juga menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjasa.

“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi sebagai pengingat agar kita tidak melupakan asal-usul serta senantiasa mendoakan orang tua, guru, dan para leluhur yang telah mendahului kita,” ujarnya.

Hadi Purwanto , ST,.SH,.MH penanggung jawab kegiatan saat ikuti pembacaan solawat nabi

Advokat tersebut juga mengaku bersyukur karena majelis Khotmil Qur’an dapat terus berjalan secara rutin hingga pelaksanaan ke-26. Menurutnya, keberlangsungan kegiatan merupakan hasil dari kebersamaan dan komitmen seluruh jamaah dalam menjaga semangat beribadah.

“Istiqomah bukan perkara mudah. Banyak kegiatan dimulai dengan semangat besar, namun tidak semuanya mampu bertahan. Alhamdulillah, majelis ini terus berjalan berkat pertolongan Allah SWT dan kekompakan seluruh jamaah,” katanya.

Ia menambahkan, setiap bacaan Al-Qur’an dan doa yang dipanjatkan dalam majelis tersebut dihadiahkan kepada kedua orang tua, para guru, leluhur, serta kaum muslimin yang telah wafat sebagai bentuk bakti dan rasa syukur.

Sementara itu, tausiah disampaikan oleh Ustadz Mukhid yang mengajak jamaah mengambil pelajaran dari ajang Piala Dunia. Menurutnya, sebagaimana para pesepak bola berlatih keras demi meraih trofi juara, umat Islam juga harus bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk meraih ridha Allah SWT dan surga.

“Seorang pemain sepak bola menjaga disiplin, mematuhi pelatih, dan berlatih bertahun-tahun. Begitu pula seorang muslim harus menjaga salat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir,  istiqomah dalam beribadah dan mencari Ridho Alloh SWT,” tuturnya.

Ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meski sedikit. Karena itu, ia mengapresiasi konsistensi jamaah yang mampu mempertahankan kegiatan Khotmil Qur’an hingga memasuki pelaksanaan ke-26.

Dalam ceramahnya, Ustadz Mukhid juga menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah. Ia mengutip Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 2 yang mengajarkan umat Islam untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Menurutnya, keberhasilan tidak pernah diraih seorang diri, melainkan melalui kerja sama dan kebersamaan. Nilai tersebut juga harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat agar tercipta persatuan dan saling menguatkan. “ Pemain bola hebat itu dalam lapangan tidak bermain secara individu, melainkan bermain bersama tim , “ tandasnya

Ia juga mengingatkan bahwa sebagaimana pertandingan sepak bola memiliki peluit akhir, kehidupan manusia pun akan berakhir dengan kematian sebagaimana firman Allah SWT, kullu nafsin dzaiqatul maut (setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati). “ Karena itu, setiap muslim hendaknya menyiapkan bekal berupa keikhlasan, amal saleh, dan ibadah untuk menghadap Sang Pencipta, “ pungkasnya

KH. Hasan Mathori penasehat kegiatan, saat tausiah diahadapan jamaah

Pada kesempatan yang sama, penasehat Kegiatan, KH. Hasan Mathori mengajak jamaah mensyukuri nikmat kemerdekaan Indonesia yang akan memasuki HUT ke-81 Republik Indonesia. Karena Negara kita, Desa kita dalam keadaan damai tidak sedang berperang.

Ia juga berpesan agar masyarakat tidak melupakan jasa para guru maupun orang tua yang telah mendidik sejak kecil.

“Jangan merasa sudah berilmu lalu melupakan guru-guru kita, bahkan guru PAUD sekalipun. Dan sekarang yang jadi ustad diaharap jangan melupakan jasa guru ngaji yang ajarkan alif, ba’, ta’, Ilmu yang berkah lahir dari sikap hormat kepada guru dan bakti kepada orang tua,” pesannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati para leluhur, termasuk tokoh yang berjasa membuka dan membangun wilayah tempat masyarakat tinggal saat ini ( babad alas). Menurutnya,  tokoh yang babad alas desa sangat berjasa, “ kita sekarang menempati desa sudah kondisi baik ,  dahulu desa yang kita tempati ini berupa alas / hutan, banyak binatang buas, termasuk ular berbisa, bahkan bangsa lelembut, “ ujarnya

Diakhir tausiahnya, KH. Hasan Mathori ajak jamaah, mendoakan ahli kubur, karena hal itu merupakan bagian dari birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua serta bentuk penghormatan kepada para pendahulu. ( din)

?>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?>