DIGDAYA NEWS.COM | MOJOKERTO – Peran generasi muda dalam menentukan arah pembangunan bangsa tidak cukup hanya diwujudkan melalui gagasan dan cita-cita besar. Dibutuhkan keberanian untuk terlibat langsung dalam kehidupan sosial, organisasi, dan kegiatan kemasyarakatan sebagai bekal menuju kepemimpinan yang berintegritas.
Pesan tersebut disampaikan Anggota DPRD Kota Mojokerto, Moeljadi, S.H., saat menjadi narasumber dalam Seminar Kepemudaan Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang digelar di Aula Sentra IKM Batik Kota Mojokerto, Sabtu (13/6/2026).
Dalam pemaparannya, Moeljadi menegaskan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. Seorang pemimpin, menurutnya, dibentuk melalui proses panjang yang diawali dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar serta keberanian mengambil tanggung jawab, sekecil apa pun bentuknya.
“Pemuda harus berani hadir dan berkontribusi. Jangan hanya menjadi penonton. Setiap pengalaman dalam organisasi maupun kegiatan sosial adalah sekolah kepemimpinan yang sangat berharga,” ujarnya di hadapan ratusan peserta seminar.
Ia menilai masih banyak generasi muda yang memiliki keinginan menjadi pemimpin, namun belum berani terlibat aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. Padahal, pengalaman mengelola kegiatan masyarakat maupun organisasi menjadi sarana penting untuk melatih kemampuan komunikasi, manajemen, dan pengambilan keputusan.

Dalam paparannya yang didukung tayangan slide presentasi, Moeljadi juga mengajak peserta menelusuri perjalanan sejarah bangsa yang sarat dengan peran pemuda sebagai agen perubahan. Ia menyinggung momentum Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, perjuangan kemerdekaan 1945 hingga Reformasi 1998 yang seluruhnya tidak lepas dari kontribusi generasi muda.
Bahkan, Moeljadi mengaku pernah menjadi bagian dari gerakan mahasiswa yang turun ke jalan menyuarakan perubahan pada masa Reformasi.
“Saya merasakan sendiri bagaimana semangat mahasiswa saat itu. Perubahan besar tidak lahir dari sikap apatis, tetapi dari keberanian menyampaikan gagasan dan memperjuangkannya demi kepentingan masyarakat,” tuturnya.
Menurutnya, setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda. Karena itu, pemuda masa kini harus mampu menjawab tantangan zaman melalui karya nyata, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Setiap generasi memiliki tantangan zamannya sendiri. Karena itu, pemuda hari ini harus mampu menjawab tantangan tersebut dengan karya, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Untuk memperkuat pesannya, Moeljadi membagikan kisah seorang pemuda di Kota Mojokerto bernama Rizky yang hanya berlatar pendidikan SMP, namun mampu menunjukkan kualitas kepemimpinan yang baik di lingkungannya.
Rizky yang saat ini dipercaya menjadi Ketua RT dikenal aktif membantu berbagai kebutuhan warga, mulai dari pengurusan administrasi, pelayanan sosial, hingga mendampingi warga yang membutuhkan bantuan. Dedikasi tersebut membuatnya mendapat kepercayaan dan apresiasi dari masyarakat.
Menurut Moeljadi, kisah Rizky membuktikan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh gelar akademik maupun status sosial, melainkan oleh kemauan untuk melayani dan memberikan manfaat bagi sesama.
“Siapa pun bisa menjadi pemimpin selama memiliki kepedulian dan komitmen untuk membantu sesama. Kepemimpinan sejati lahir dari pengabdian,” tegasnya.
Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-62 IMM tersebut berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Melalui kegiatan itu, para pemuda diajak untuk memperkuat semangat partisipasi sosial, meningkatkan kapasitas diri, serta mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan yang berkarakter, berintegritas, dan mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat maupun bangsa. (din)










